"Bu, bolehkah aku menggoreng pacarku"
"Boleh-boleh, jangan lupa
dikasih lengkuas terlebih dahulu, biar wangi, ya, lalu kasih rawitnya
dikit aja. jangan banyak-banyak". tapi, sebelum pacarmu kau goreng, apa
boleh Ibu bertanya 1 hal, wahai anakku yang tampan?"
"Nggak boleh, Bu"
"iya, Bu. pokoknya gak boleh, titik"
"Lho, kok gitu?" Kok gak boleh (Ibu ngeyel)
" kan Ibu sendiri yang ngasih opsi, (boleh atau tidak), aku jawab tidak, trus apa aku salah?"
"iya juga sih, kamu nya nggak salah, Ibu lah yang salah"
"terima kasih, Bu. sudah mengakui kesalahanmu melahirkan aku"
"Iya Nak, kalau boleh jujur, kemarin itu kamu lahir nya terpaksa, Ibu gak sengaja kebujuk rayuan, Ayahmu"
"Kok kemaren sih bu, aku kan udah 23 tahun"
BERSAMBUNG....
(Sambungannya)
"Tiba-tiba Ayah datang, muncul dari balik dinding, membuat aku dan Ibu kaget bukan main, dan ikut berkata:"
Ayah:
"ada apa dengan kau, Nak? ini kali ketiga Ayah mendengar kau bercerita
tentang pacarmu pada Ibumu, kali pertama ialah ketika kau bercerita pada
Ibumu waktu pacarmu kau tembak. Ya, waktu itu kau menggunakan pistol
air, pistol airnya kau isi dengan tinta yang berwarna pink, kalau tidak
salah pink adalah warna kesukaan pacarmu. iya kan? mungkin itulah sebab
Dianya mau menjadikanmu sebagai pacar. iya kan?" kau masih ingat? kala
itu sepertinya tanggal 11 Januari 2098 Masehi, yap. tanggal itu. Ayah
ingat betul." Namun ayah di sini (yang tak kelihatan olehmu) hanya
senyum-senyum saja, dan dari jauh beranggapan bahwa kau memang keren,
Nak"
"kali kedua adalah ketika kau curhat dengan Ibumu
waktu kau cemburu dengan salah seorang teman yang mencoba menggoda
pacarmu, iya kan? waktu itu kalau tidak salah kau cemburu dengan begitu
saja tanpa bertanya sikitpun dengan pacarmu, Ayah pun tidak ikut bicara,
karena bagi Ayah ini adalah urusanmu, kau lah yang punya cinta, kau lah
yang menyelesaikannya" iya kan?"
"kali ketiga adalah saat
ini, Ayah sengaja muncul dari balik dinding, (tidak dari atas atap)
sengaja begini agar kau dan Ibu memang benar-benar kaget, terkait
perkara penggorengan pacarmu, bolehkah ayah ikut berkomentar? Ayah
merasa ini sudah terlalu jauh, Nak"
"Tidak boleh, Yah".
Titik. Ayah kan sudah meninggal dunia, berarti hanya karena aku saja
Ayah telah mati suri 3 kali, aduhai betapa kecewanya aku. bukankah
bidadari sorga lebih nikmat, Yah?"
"Lho, kok kamu gitu sih Nak, sama Ayah?"
"ada deh, Yah"
"tiba-tiba Ayah menghilang, dan membuat cerita ini bersambung lagi untuk kedua kalinya"
No comments:
Post a Comment